Nokia mengumumkan 2 buah ponsel baru CDMA dari mid-level, yakni Nokia 3608 dan 8208.
Nokia 3608 merupakan ponsel CDMA dengan display layar di luar dan di dalam. Memiliki support GPS dan akses langsung ke music player. Tersedia juga fasilitas Bluetooth, FM Radio dan Memory Card 4GB.
Sedangkan Nokia 8208 Sliding sepintas sangat mirip dengan Nokia N96, bedanya ponsel ini menggunakan jaringan CDMA.
Ponsel dengan layar 2.2 inchi ini merupakan ponsel pertama yang menggunakan form factor two-way slider. Ponsel dengan kamera 3 megapixel ini mampu menampilkan resolusi 240 X 320 pixel. Dimensi ukuran ponsel ini tidak terlalu besar walaupun ada slide form factornya, yakni 101 X 45.2 X 15.9 mm dengan berat lebih kurang 126 gram. Fasilitas lain yang tersedia di ponsel ini adalah multi media player, FM Radio, Bluetooth, micro USB dan slot microSD / micro SDHC.
HP Nokia Bisa Di Daur Ulang
Ternyata ponsel merk Nokia bisa didaur ulang sekitar 65% hingga 80% seperti cassing plastik, chip hingga layar monitor. Namun kebanyakan masyarakat di dunia ternyata tidak tahu bahwa ponsel dapat didaur ulang. Sekitar 74% konsumen mengatakan bahwa tidak pernah terlintas sama sekali di benak mereka untuk mendaur ulang ponsel lama.
Negara yang dianggap paling tidak sadar program daur ulang adalah negara-negara Eropa seperti Inggris (80%), disusul Finlandia dan Swedia (66%), Indonesia (29%) dan India (17%).
Sedangkan untuk proses daur ulang ponsel bekas, Indonesia memiliki kontribusi paling besar yaitu sekitar 88% masyarakatnya tidak memiliki kepedulian dengan proses daur ulang ponsel bekas, disusul India (84%) kemudian Brasil, Swedia, Jerman dan Finlandia (78%).
Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi para pengguna ponsel merk Nokia untuk membuang produk yang dipakainya atau menguburnya di dasar bumi. Para pelanggan Nokia bisa “membuang” ponsel bekas mereka di toko-toko retail Nokia dan 5000 Nokia Care Center yang tersebar di 85 negara di dunia.
Dibandingkan penjualan ponsel merk lain Nokia masih menempati ranking pertama hingga saat ini dengan 115.5 juta unit, disusul Samsung dengan 46.3 juta unit dan LG dengan 24.4 juta unit.
Vendor ponsel asal Amerika, Motorola, dipastikan akan merosot peringkatnya dari posisi 4 ke posisi 5. Prediksi yang dikutip dari DigiTimes, Selasa (15/7/2008) didapat dari data penjualan ponsel Motorola yang hanya mencapai 22 hingga 23 juta unit pada kuartal kedua tahun ini.
Data ini juga diperkuat oleh analisa dari Strategy Analytics yang menyatakan bahwa pengapalan ponsel secara global saat ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan rata-rata 14% dari tahun ke tahun hingga mencapai 282 juta unit pada kuartal pertama tahun 2008.
Peningkatan pengguna Handphone saat ini, terutama di Eropa sudah lebih banyak ketimbang jumlah penduduknya. Menurut kantor statistik Uni Eropa di Luxemburg, penetrasi Handphone adalah 158 per 100 orang (158%), terutama di Lithuania dan Italia. Di Hongkong penetrasi mencapai 139.8% dari jumlah populasi penduduknya pada Juli 2007. Di Amerika saat ini penetrasinya 81%. Ada lebih dari 500 juta nomor Handphone aktif di China pada 2007 tapi penetrasinya masih dibawah 50%.
Jumlah total pengguna Handphone di seluruh dunia diperkirakan 2.14 miliar pada 2005. Pertumbuhannya meningkat hingga 2.7 miliar pengguna pada akhir 2006 dan 3.3 miliar pada November 2007. Sekitar 80% populasi dunia menikmati penggunaan Handphone pada 2006 dan ini diharapkan meningkat hingga 90% pada tahun 2010.
Saat ini, Afrika memiliki pertumbuhan pengguna Hanphone terbesar di dunia. Pertumbuhan ini hampir dua kali lipat pertumbuhan pengguna Handphone di Asia. Adanya layanan pra-bayar dari para operator Handphone membuat pertambahan penggunanya makin pesat karena mereka tidak terikat kontrak jangka panjang terutama di Afrika, juga beberapa benua lain.
Dalam basis angka, India memiliki pertumbuhan pasar terbesar, pertambahannya mencapai 6 juta Handphone setiap bulan. Dengan 256.55 juta Handphone, penetrasi pasar di negara ini masih rendah yaitu 22.52%. India berharap bisa mencapai 500 juta pengguna Handphone pada akhir tahun 2010.
Ada 3 tehnik mayor yang standar untuk generasi Handphone dan jaringan saat ini dan 2 standar mayor untuk generasi 3G dan jaringan yang akan datang. Seluruh penduduk Eropa, Afrika dan beberapa negara Asia mengadopsi sistem tunggal yaitu GSM sebagai satu-satunya teknologi yang tersedia di seluruh benua dan kebanyakan negara dan menjangkau lebih dari 74% seluruh pengguna Handphone. Di beberapa negara seperti Amerika, Australia, Brasil, Costa Rica, India, Jepang dan Korea Selatan GSM juga berdampingan dengan standar internasional lainnya seperti CDMA dan TDMA.
Generasi ketiga (3G) yang juga dikenal sebagai jaringan IMT-2000, jaringan keempat adalah standar W-CDMA (juga dikenal sebagai UMTS), biasanya dilihat sebagai evolusi alami untuk jaringan GSM & TDMA. Salah satu dari jaringan 3G adalah teknologi CDMA 2000 1X EV-DO. Beberapa pengamat mengkalkulasi tahap sebelumnya dalam evolusi CDMA, CDMA 2000 1X RTT sebagai teknologi 3G namun kebanyakan ahli mengkalkulasi bahwa standar CDMA 2000 1X EV-DO sebagai teknologi 3G yang sesungguhnya. Karena perbedaan dalam interpretasi apa itu 3G, terdapat banyak sekali variasi pada perhitungan para penggunanya. Pada Juni 2007 terdapat 200 juta pelanggan pada jaringan 3G. Dengan menggunakan definisi yang lebih lebar, maka total penggguna 3G adalah 475 juta telephone.
Sistem pra-bayar yang dapat membeli atau menambah pulsa lewat internet, toko-toko penyedia pulsa atau juga ATM, sepertinya meninggalkan cara yang lebih tradisional sebelumnya yang masih menggunakan lembar tagihan (pasca-bayar). Di Portugal dan Italia lebih dari separuh pengguna Handphone menggunakan sistem pra-bayar. Namun di Amerika, Kanada, Costa Rica, Jepang dan Finlandia kebanyakan pengguna Handphone masih menggunakan sistem tagihan (pasca-bayar).
Pada 2007, beberapa maskapai penerbangan mencoba dengan stasiun dasar dan sistem antena yang dipasang pada pesawat, yang menyediakan power yang rendah, koneksi jarak dekat dari telephone-telephone di dalam pesawat yang dihubungkan ke stasiun dasar pesawat. Jadi para penumpang tidak berusaha menghubungi stasiun dasar di darat seperti selama "take off" dan mendarat. Secara bersamaan, maskapai penerbangan menawarkan layanan telephone kepada para penumpangnya baik layanan suara atau data atau hanya sekedar SMS.
Qantas, maskapai penerbangan Australia adalah maskapai penerbangan pertama yang menguji cobakan layanan ini selama musim gugur 2007. Maskapai penerbangan Emirates memberitahukan rencana untuk mengizinkan penggunaan telephone secara terbatas dalam beberapa penerbangannya. Bagaimanapun juga di masa lalu maskapai penerbangan komersial melarang penggunaan handphone dan laptop karena merujuk pada kenyataan bahwa frekuensi yang dikeluarkan benda-benda tersebut dapat mengganggu kontak gelombang radio pesawat.
Pada 20 Maret 2008 maskapai Emirates Arab adalah maskapai penerbangan pertama yang mengizinkan pembicaraan lewat suara selama penerbangan dalam pesawat komersial. Terobosan ini datang setelah European Aviation Safety Agency (EASA) dan Uni Emirat Arab - berdasar General Civil Aviation Authority (GCAA) menjamin penuh penggunaan AeroMobile System untuk digunakan pada maskapai penerbangan Emirates. Penumpang dapat menelpon atau menerima telephone sebaik menggunakan pesan text dalam pesawat saat ini. Sistem dalam pesawat Airbus A340-300 secara otomatis masuk dalam operasi ini jika telah mencapai ketinggian tertentu.
Dalam beberapa kasus terjadi ketidak konsistenan dalam prakteknya di beberapa maskapai yang berbeda bahkan dalam maskapai yang sama untuk jalur penerbangan yang berbeda. Pada April 2007 US Federal Communications Commission secara resmi mengumumkan ide untuk mengizinkan para penumpang menggunakan telephone selama penerbangan. Senada dengan hal tersebut, persetujuan juga diberikan oleh beberapa negara seperti Canada, Inggris dan Amerika.
Handphone saat Berkendara
Penggunaan Handphone saat berkendara diperkenankan namun masih mengundang kontroversi. Menggunakan Handphone saat berkendara bisa meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan di jalan. Simulasi yang dipublikasikan oleh Prof. David Strayer dari University of Utah membandingkan antara pengemudi yang memiliki kadar alkohol 0.08% dalam darahnya dengan pengemudi yang menggunakan Handphone saat berkendara. Setelah mengontrol kesulitan berkendara dan waktu pelaksanaan simulasi, studi ini menyimpulkan bahwa pengendara yang menggunakan Handphone saat berkendara lebih beresiko mengalami kecelakaan daripada pengendara yang terdapat 0.08% alkohol dalam darahnya.
Analisa yang dilakukan oleh Canadian Automobile Association dan University of Illionis menemukan bahwa waktu respon ketika pengendara menggunakan Handphone (baik menggunakan Handsfree atau dipegang dengan tangan) adalah 0.5 standar devisasi dari mengendara normal. Riset lain menemukan bahwa menggunakan Handphone saat berkendara akan menurunkan konsentrasi dan waktu reaksi pengendaranya. Mereka yang berusia sekitar 20 tahun jika menggunakan Handphone saat berkendara maka reaksinya akan sama seperti mereka yang berusia 70 tahun. Studi ini menunjukkan bahwa berbicara lewat telephone saat berkendara akan menurunkan fungsi kognitif pengendaranya dan membawa pengendara tersebut ke dalam situasi yang berbahaya.
Berkendara dengan menggunakan media Handsfree tidak lebih aman ketimbang menerima telephone dengan tangan menggenggam seperti yang disimpulkan dari beberapa studi.